Selasa, 11 Desember 2018

MAKNA SIMBOLIK UMPASA, SINAMOT, DAN ULOS PADA ADAT PEKAWINAN BATAK TOBA

Image result for batak


MAKNA SIMBOLIK UMPASA, SINAMOT, DAN ULOS PADA ADAT PEKAWINAN BATAK TOBA
Pernikahan merupakan hubungan yang secara terbuka mengakui adanya komitmen jangka panjang yang dibuat oleh dua orang terhadap satu sama lain. Pada pernikahan yang dilaksanakan setiap budaya memiliki perbedaan sesuai dengan nilai yang mereka anut, seperti halnya pernikahan Batak Toba. Pada upacara pernikahan Batak Toba, terdapat beberapa sistem simbol yang dilaksanakan dan memiliki makna tersendiri, antara lain: simbol penggunaan umpasa, simbol pemberian dan penerimaan uang mahar (sinamot), dan simbol pemberian ulos.
Masyarakat Batak Toba tradisional adalah masyarakat yang tertutup sehingga tidak mengatakan suatu hal secara langsung. Terdapat suatu nilai yang dipegang teguh sehingga untuk mengatakan sesuatu harus dilapisi dengan kata-kata yang membuat maknanya terkesan samar namun tetap dapat dimengerti. Dalam berkomunikasi, mereka biasanya menggunakan umpama (perumpamaan) dan umpasa (pantun). Umpasa terdiri dari empat baris, bersajak aa/aa atau ab/ab. Dua baris pertama merupakan sampiran dan dua baris terakhir berisi isi. Antara sampiran dan isi harus dimaknai dalam konsep budaya. Umpama dan umpasa menekankan makna bernilai budaya dengan membandingkan sifat-sifat, kebiasaan, karakteristik, perilaku suatu binatang, tumbuh-tumbuhan, dan benda-benda yang terdapat di sekililing masyarakat Batak Toba, misalnya:
Napuran tano-tano
“Sirih yang masih menjalar di tanah
Rangging masi ranggongan
Menjalar saling tindih-menindih
Badanta padao-dao
Tubuh kita saling berjauhan
Tondintai masigonggoman
Roh kita saling berdekapan”
Umpasa di atas merupakan perbandingan kebiasaan tumbuh-tumbuhan dengan kepercayaan terhadap manusia yang memiliki roh.
Umpasa sebagai bahasa komunikasi di antara pihak-pihak yang berkompeten memiliki makna simbolik dalam membicarakan segala sesuatu yang berhubungan dengan pelaksanaan upacara pernikahan. Selain sebagai bahasa komunikasi, umpasa juga sebagai sarana bermohon kepada Tuhan Yang Maha Esa. Permohonan tersebut berkaitan dengan kepentingan serta harapan-harapan yang diinginkan oleh setiap keluarga.
Pada masyarakat Batak Toba, mahar disebut sebagai sinamot yang merupakan pembayaran pernikahan dalam bentuk uang, benda, dan kekayaan. Besarnya jumlah sinamot telah dibicarakan oleh kedua belah pihak sebelum pelaksanaan pesta pernikahan. Pertemuan ini disebut dengan marhata sinamot (membicarakan sinamot). Pertemuan tersebut sebagai bentuk kerja sama (cooperation) kedua belah pihak. Kerjasama mengacu pada kemampuan  untuk bekerjasama menuju tujuan bersama. Dimana pada waktu upacara pernikahan berlangsung, sinamot akan dibagikan kepada pihak kerabat yang berhak: Suhut (orang tua dari mempelai perempuan), Sijalo Bara (saudara laki-laki ayah dari mempelai perempuan), Sijalo Todoan (saudara laki-laki mempelai perempuan), Tulang (saudara laki-laki dari ibu mertua perempuan), Pariban (saudara perempuan dari ibu mertua atau bibi dari pempelai perempuan), serta para undangan pihak perempuan (parboru) yang hadir. Hal ini sebagai wujud dari sistem kemasyarakatan Batak Toba yang masing-masing mempunyai status dan peran. Ketiga unsur kemasyarakatan mendapatkan bagian dari sinamot, sebaliknya mereka akan melaksanakan perannya pada upacara adat perkawinan.
Sinamot memiliki makna simbolik yang mendalam sesuai dengan sistem nilai yang diwariskan secara turun-temurun. Jelasnya, pengertian sinamot adalah proses “pemberian dan penerimaan”. Mempelai perempuan yang telah diberikan marga oleh pihak keturunan/klan ayahnya akan melepaskan haknya, sebaliknya akan ”menerima sinamot” dari pihak paranak. Mempelai perempuan sudah tidak menjadi tanggungan ayahnya lagi dalam adat karena haknya sudah diserahkan kepada pihak mempelai laki-laki. Sinamot juga dapat diartikan sebagai makna simbolik “harga diri” dari kedua belah pihak di mata sosial masyarakat. Sinamot dinyatakan serta disaksikan di depan masyarakat umum sehingga dapat menjadi kontrol sosial di tengah keluarga yang baru dibentuk.
Pada masyarakat Batak Toba tradisional, sumber panas didapatkan dari panas matahari, api, bambu duri yang dijadikan benteng perkampungan, dan ulos (sehelai kain). Ulos dianggap lebih praktis dalam mendapatkan dan menggunakannya, Sehingga dengan alasan ini, ulos mempunyai makna tersendiri bagi masyarakat Batak Toba. Ulos memberikan kehangatan tubuh dan roh manusia. Kehangatan tubuh dan roh membuat manusia sehat sehingga dapat beraktifitas dalam kehidupan sehari-hari.
Secara umum, makna simbolik ulos terdiri atas tiga bagian, yaitu: hapal (tebal) memberikan kehangatan tubuh dan roh bagi yang menerimanya. Sitorop Rambu (banyak rambu pada ujung ulos) mempunyai arti agar mendapatkan banyak keturunan putra dan putri bagi yang menerimanya. Ganjang (panjang) yang mempunyai arti agar orang yang penerimanya panjang umur. Pemberian ulos ketika upacara adat pernikahan Batak Toba bersamaan dengan penggunaan umpasa, setelah umpasa selesai diucapkan maka ulos dililitkan ke punggung kedua pengantin. Pemberian ulos mempunyai makna simbolik sebagai “materai” agar permohonan yang disampaikan kepada Tuhan Yang Maha Esa menjadi kenyataan seiring dengan sampainya ulos tersebut untuk mengahangatkan tubuh dan roh kedua pengantin yang menjadi satu dalam keluarga. Penyampain ulos diharapkan dapat memacu semangat hidup untuk mengayuh biduk keluarga di tengah gelombang dunia yang dahsyat.
Kesimpulannya, pada upacara pernikahan masyarakat Batak Toba ditemukan tiga simbol yang masing-masing memiliki makna atau nilai: 1. Simbol penggunaan umpasa yaitu sebagai sarana komunikasi bagi utusan pembicara, serta sebagai permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar diberikan hagabeon (memiliki putra dan putri), hamoraon (memiliki kekayaan harta benda), hasangapon (memiliki Wibawa dan terpandang), dan saur matua (panjang umur dan dapat mencapai cita-cita). 2. Simbol sinamot yaitu keluarga mempelai perempuan yang telah mewariskan marga klan keturunan, dan pengantin laki-laki yang memberikan sinamot akan menerima dan memasukkan mempelai perempuan ke dalam klan keturunan mempelai laki-laki. 3. Simbol pemberian ulos yaitu sebagai “materai” agar permohon kepada Tuhan Yang Maha Esa menjadi kenyataan untuk mengahangatkan tubuh dan roh kedua pengantin yang menjadi satu dalam keluarga.

Daftar Pustaka

Matsumoto, D., & Juang, L. (2013). Culture and Psychology Fifth Edition. USA: Wadsworth Cengage Learning.
Pardosi, J. (2008). Makna Simbolik Umpasa, Sinamot, dan Ulos pada Adat Perkawinan Batak Toba. Jurnal Ilmiah Bahasa dan Sastra. Vol. 4, No. 2, Medan: Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara.

Apakah Itu Psychological Well Being?


Image result for well being

Apakah Itu Psychological Well Being?

Psychological well being adalah sikap positif yang ditunjukkan individu terhadap dirinya dan orang lain, mampu menetapkan keputusan sendiri dan mengelola tingkah lakunya, mampu menciptakan dan mempertahankan lingkungan yang bermanfaat untuk dirinya, memiliki tujuan hidup dan membuat hidupnya lebih bermakna, dan berusaha  mengeksplorasi dan mengembangkan potensinya (Karimah, 2016). Psychological well being merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan kesehatan psikologis individu berdasarkan pemenuhan kriteria fungsi psikologi positif. Psychological well being sebagai fungsi positif individu, dimana fungsi positif individu merupakan arah atau tujuan yang diusahakan untuk dicapai oleh individu yang sehat. (Sismiati, 2016).
Ryff (dalam Sismiati, 2016) menyatakan ada beberapa aspek yang menyusun psychological wellbeing, antara lain:
1. Penerimaan diri (Self acceptance)
Seseorang yang psychological well being-nya tinggi memiliki sikap positif terhadap diri sendiri, mengakui serta menerima berbagai aspek positif dan negatif dalam dirinya.
2. Hubungan positif dengan orang lain (Positive relations with others)
Kemampuan untuk mencintai dipandang sebagai komponen utama kesehatan mental. Psychological wellbeing seseorang itu dikatakan tinggi apabila memiliki empati, afeksi, dan penerimaan dalam suatu hubungan.
3. Kemandirian (Autonomy)
Kemampuan individu dalam mengambil suatu keputusan sendiri, mampu melawan tekanan sosial untuk berpikir dan bersikap dengan cara yang benar, berperilaku sesuai dengan standar nilai individu itu sendiri, serta mengevaluasi diri sendiri dengan standar personal.
4. Penguasaan lingkungan (Environmentalmastery)
Mampu dan berkompetensi mengatur lingkungan, menggunakan kesempatan secara efektif dalam lingkungan, serta mampu memilih dan menciptakan konteks yang sesuai dengan kebutuhan dan nilai individu itu sendiri.
5. Tujuan hidup (Purpose in life)
Individu yang berfungsi secara positif memiliki tujuan, misi, dan arah yang membuatnya merasa hidup ini memiliki makna.
6. Pengembangan pribadi (Personalgrowth)
Perasaan mampu dalam melalui tahaptahap perkembangan, terbuka akan berbagai pengalaman baru, menyadari potensi yang ada dalam dirinya, serta melakukan perbaikan dalam hidupnya setiap waktu.

Daftar  Pustaka


Empati, J., & Karimah, F. N. (2016). Hubungan Antara Psychological Well Being Dengan Self Regulated Learning Pada Remaja Putri Penghafal Al- Qur ’ An Di P Ondok Pesantren Khalafi, 5(4), 738–743.
S, A. S. (2016). Kesejahteraan Psikologis ( Psychological Well- Being ) Siswa Yang Orangtuanya Bercerai ( Studi Deskriptif Yang Dilakukan Pada Siswa Di Smk Negeri 26 Pembangunan Jakarta ) Abstrak, 5(1), 108–115.